Seorang ayah muda bernama Hankto yang baru mempunyai
gadis kecil berumur 3 tahun, sangat menyukai bidang pekerjaannya. Sibuk. Sedikit, bahkan hampir tidak ada waktu untuk keluarga. Suatu malam, sang
gadis kecil, melita namanya meminta ayahnya untuk membacakan dongeng dari sebuah buku yang baru dibelikan oleh ibunya. Buku tersebut masih tercium bau toko. "Huhuy buku baru nih?", Hankto memulai pembicaraan dengan tanpa melirik ke arah melita sedikitpun. Sedikit mengacuhkan. Ya, karena ia masih sibuk dengan segudang pekerjaan di depan matanya. "Ia nih Pah,bacain dong", si gadis memulai
manjanya. Namun dengan masih acuhnya Hankto hanya menjawab "Apa sih? nanti dulu aja ya.". Terlihat kecewa sigadis luchu kembali me
manja "Pah, bacain. Kata mamah ceritanya bagus". "Aduh Sayang, papah masih sibuk, ya udah sama
mamah aja gih.". Melita langsung menjawab "Mamah bilang, lebih bagus kalo papah yang cerita". Tetap acuh pada sang gadis. Tetap konsentrasi pada pena dan lembaran-lembaran kertas di mejanya. Ya seperti itulah Hankto. Melita kembali
merayunya "Pah, 15 menit aja". Hankto diam. "Pah". Sekali lagi merengek "
Papah". Kemudian sekitar 10 menit kemudian tanpa ada balasan dari Papahnya, maka si gadis mungil luchu kemudian memberikan buku itu kepada ayahnya, sambil tersenyum dan memegang telapak tangan ayahnya, Melita berkata "Pah, ini bukunya pegang dulu aja ya pah". Hankto hanya diam terpaku melihat apa yang dikatakan buah hatinya. Melita yang tidak lepas dari senyumnya melanjut "Nanti kalo papah udah ga sibuk dan udah punya waktu, baru bacain ya. Tapi bacanya harus keras biar Melita bisa denger, Ok Pah". Melita pergi dengan senyum simpulnya. Maka diwaktu yang kurang tepat Hankto membaca juga buku cerita yang sudah ridak kelihatan baru itu. Sesuai pesan dari gadisnya, maka ia membacanya dengan keras-keras supaya gadisnya, Melita bisa mendengar ceritanya walaupun ditempat peristirahatan terakhirnya. Mengingat kejadian itu semakin keraslah Hankto membacanya, sampai ia melupakan kejadian tabrak lari gadisnya sepulang ia dari rumah tetangga.
Apa yang bisa dilakukan Hankto, waktu tidak bisa diulangi. Hanya penyesalan. Hampir setiap hari ia membaca buku itu, sampai suara terdengar parau agar terdengar oleh sang
gadis. :'(