
Sumpah...
Sumpah. Diawal. Aku tidak suka, apalagi untuk merasa tertarik padanya, huh itu adalah hal yang jauh tergambar dan tidak terpikirkan dalam benak.
Sumpa. Di akhir. Aku disini tidak bisa melupakan senyumnya, rasa sayangnya, bau tubuhnya, makanan kesukaannya, gaya bahasanya, gaya berpakaianny, mimik muka saat dia tidur, cara makannya, cara dia mengeluh, apa yang tidak dia suka, cara menyapa ku yang diawali kata Hai....., dan semuanya dan semuanya. Dan bodohnya aku menulis ini setelah kurang lebih 9 bulan aku dan dia resmi berpisah. Sepanjang waktu yang dibutuhkan seorang bayi menunggu melihat dunia diluar perut ibundanya.
Kalian yang mengenal aku ataupun yang tidak tetapi kebetulan membaca ini mungkin berpikiran sama dan tertawa ataupun bersenyum simpul atau malah "marah" melihat apa yang terjadi padaku. Wajar saja. Tak apa. Tapi satu hal yang harus dicermati adalah Mungkin kalian pernah mengalami hal yang "serupa" denganku, tetapi kalian bukan aku dan aku bukan kalian. Maka semua ocehan-ocehan kalian hanya berpengaruh kecil dan tidak betahan lama bagiku.
Egois? Ya, memang. Kenapa? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Kenapa tidak bisa? Karena jawabannya masih tertulis dalam hati, dan hatiku sudah membeku tanpa ada sebuah kehangatan yang membuatnya cair.
Ahh anjrit sial......! Penulisan BAB I skripsiku jadi tertunda, hampir satu jam karena teringat si dudung itu, malah jadi keringat gini lagi.. Fiiiuuuuhhh.... Lanjut...
Sumpa. Di akhir. Aku disini tidak bisa melupakan senyumnya, rasa sayangnya, bau tubuhnya, makanan kesukaannya, gaya bahasanya, gaya berpakaianny, mimik muka saat dia tidur, cara makannya, cara dia mengeluh, apa yang tidak dia suka, cara menyapa ku yang diawali kata Hai....., dan semuanya dan semuanya. Dan bodohnya aku menulis ini setelah kurang lebih 9 bulan aku dan dia resmi berpisah. Sepanjang waktu yang dibutuhkan seorang bayi menunggu melihat dunia diluar perut ibundanya.
Kalian yang mengenal aku ataupun yang tidak tetapi kebetulan membaca ini mungkin berpikiran sama dan tertawa ataupun bersenyum simpul atau malah "marah" melihat apa yang terjadi padaku. Wajar saja. Tak apa. Tapi satu hal yang harus dicermati adalah Mungkin kalian pernah mengalami hal yang "serupa" denganku, tetapi kalian bukan aku dan aku bukan kalian. Maka semua ocehan-ocehan kalian hanya berpengaruh kecil dan tidak betahan lama bagiku.
Egois? Ya, memang. Kenapa? Aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Kenapa tidak bisa? Karena jawabannya masih tertulis dalam hati, dan hatiku sudah membeku tanpa ada sebuah kehangatan yang membuatnya cair.
Ahh anjrit sial......! Penulisan BAB I skripsiku jadi tertunda, hampir satu jam karena teringat si dudung itu, malah jadi keringat gini lagi.. Fiiiuuuuhhh.... Lanjut...









kamu tetap sahabat terbaikku
I'll take care of her...
cause i love her, as much as you did... maybe more...